Cahaya itu diatas cahaya…

Menerangi jalan menuju cinta-Nya



Senin, 04 Juli 2011

Hidup untuk Mempersiapkan Akhir

18 June 2011, 22:42
Bismilahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah, selalu ada yang bermakna dan membuatku tersenyum ketika kala senja mendekat. Senja yang terkadang membuat saya menyari bahwa saya beruntung bisa bertemu, berkumpul dan berbagi dengan orang-orang yang luar biasa. Suatu hari yang saya kedatangan tamu, seorang sahabat sejak SMA yang sering “hadir” di rumah saya. Ketika itu saya lagi browsing di FB dan membaca kabar bahwa Nurul F. Huda telah meninggal dunia (Innalillahi Wainna ilaihi roji’un) tepatnya pada Rabu (18/5) pukul 03.15 WIB di RS Sardjito Yogyakarta.
Perkenalan, Nurul F. Huda ini adalah salah satu penulis cerpen, novelis dan buku-buku Islam yang saya dan teman-teman saya suka waktu zaman SMA dulu. Beberapa diantara karyanya adalah: La Tansa, Menjemput Bidadari, Balada Cinta Sikembar, Bayangan Bidadari, Pipit Tak Selamanya Luka, dan yang terakhir adalah Hingga Detak Jantungku Berhenti, sebuah catatan hidup Nurul F. Huda sebagai single parent yang membesarkan kedua buah hatinya sekaligus mengisahkan penderitaan Nurul yang sejak kecil sakit jantung dan terpaksa menjalani beberapa tahapan operasi katup jantung, ditambah infeksi  paru-paru menahun yang makin membuat kondisi kesehatan mba Nurul menurun. Semoga Allah SWT menerima amal beliau dan mengampuni segala kesalahannya. Amin..
Saya tidak mengenal beliau apalagi bertemu dengan Mba Nurul, tetapi kenapa ada rasa yang berbeda ketika saya membaca berita meninggalnya beliau. Mungkin karena buku-bukunya yang saya baca membuat ikatan itu hadir antara saya dan beliau, bukunya begitu menggugah. 


Beberapa hari sesudah berita meninggalnya mba Nurul saya mendengar kabar bahwa ibu Yoyoh Yusroh, meninggal dunia, Sabtu (21/5/2011) dinihari. Saya sempat membaca dari FB berita meninggalnya ibu Yoyoh, begitu ramainya pemberitaan ini membuat saya penasaran siapakah beliau sebenarnya, apa peran beliau sehingga begitu banyaknya orang yang kehilangan, karena pada saat itu saya baru mendengar nama Ibu Yoyoh Yusroh. Beliau adalah nggota Komisi I DPR asal Fraksi PKS  dikenal juga sebagai ibu yang memiliki 13 anak penghapal Al-Qur’an, beliau juga pendakwah dan aktif dalam gerakan kepedulian Palestina lengkapnya silahkan klik disini.

Sekali lagi saya tidak mengenal mereka, tetapi ada yang membuat saya tertarik untuk belajar banyak dari orang-orang seperti beliau-beliau ini.
Awalnya kami mencari penyebab meninggalnya mba Nurul yang ternyata karena penyakit jantung dan paru-parunya yang terinfeksi. Saya berujar kepada teman, bagaimana seandainya jika jantung kita berhenti sejenak? Tiba-tiba pembicaraan berhenti, bagaimana seandainya jantung ini tidak melakukan tugasnya barang beberapa detik? MATI. Itulah yang menjadi kesimpulan kami saat itu. Jikalau salah satu otot atau syaraf saja yang tidak bekerja menurut aturan maka gangguan bahkan hal yang lebih buruk dari itu dapat terjadi. “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Subahanallah, Alhamdulillah… Allah SWT masih memberikan kami kesempatan untuk hidup, masih memberikan kesempatan bagi kami untuk memperbaiki diri dan menutup kesalahan-menggantinya dengan amal salih kebaikan. Allah dengan Rahman-RahimNya memberikan keteraturan jantung ini berdetak sehingga aliran darah ini dapat masuk jantung melalui pembuluh darah vena diproses melalui serambi dan bilik kanan-kiri  lalu keluar melalui pembuluh darah arteri disebar ke seluruh tubuh. Dengan keteraturan ini pula kita dapat bernafas, menghirup segarnya udara dipagi hari, menikmati indahnya dunia dengan kedua mata kita, mendengar bisingnya percakapan dengan kedua telinga kita, berjalan dengan kaki sempurna, menulis dengan kedua tangan,  semuanya diberikan dengan cuma-cuma alias Gratis!  “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Hidup adalah pilihan tentang bagaimana mempersiapkan kematian... ( Nurul F Huda in her note on November 27th, 2009 ). Setiap orang pasti akan berakhir kehidupannya, suatu kepastian dan tidak akan terbantahkan. “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali Imran: 185).


Setiap orang bebas menorehkan sejarah kehidupannya dengan tinta apa yang ia mau. Mau tinta emas, berwarna warni ataukah tinta hitam. Bebas menentukan pilihan bagaimana ia akan mempersiapkan kematiannya kelak. Berakhir baik ataukah berakhir buruk. Orang-orang yang menyadari bahwa kehidupannya akan berakhir tentunya akan menyiapkan akhir kehidupannya dengan cara yang indah. Mereka adalah orang-orang yang hebat, yang berhasil menorehkan sesuatu dihati keluarga, sahabat, teman-teman bahkan orang-orang yang belum mereka kenal. Ibarat sebab akibat, …barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Al-Zalzalah: 7-8).
Ibnul Khatab, A. Aziz Rantisi, Yahya Ayash, Sayid Qutb, beberapa nama dari sekian banyak orang-orang yang mengharapkan kematiannya berahir syahid di medan juang dan ternyata apa yang mereka harapkan terwujud. Ketika saya membaca biografi beliau-beliau diatas saya memperoleh kesimpulan bahwa ada tujuan hidup yang kuat yang hendak diraih oleh orang-orang hebat ini. Dengan sakitnya, dengan keterbatasannya mereka tetap berfikir posistif terhadap ketentuan yang Allah berikan. Bahwa tidak ada yang sia-sia dari semua takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT, bahwa janji Allah itu adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Saya belajar dari mereka bahwa apa yang kita anggap baik terkadang belum tentu baik menurut Allah, dan boleh jadi sesuatu yang kita anggap tidak baik padahal ia amat baik bagi kita. Ini terkadang klise didengar tapi nyata terjadi dan berpengaruh pada cara pikir kita sehari-hari. 

Mereka berbuat sesuatu untuk memahatkan “ada” dimuka bumi ini menjadi sosok yang memberi warna bagi orang-orang yang hadir mengisi hari mereka. Gaungnya-pun tidak hanya dimana ia tinggal tetapi di ranah konflik dan dipenjuru bumi meraka siap menorehkan sesuatu yang berarti. Melalui tulisan, seminar, parlemen, diplomasi, gagasan, seluruh potensi tak terlewat di dalam rumah mereka masing-masing.
Waktu kuliah dulu saya pernah bertemu dan kenal dengan  seorang akhwat yang kebetulan sekelas dengan saya dan bertemu dengan seorang yang saya anggap Mba (karena Mba ini yang menjadi tentor saya waktu kajian di asrama). Mereka luar biasa dari segi akhlak, tutur katanya luar biasa santun, perilakunya membawa motivasi bagi yang melihat, jika didekatnya bawaannya adeem, kebawa ke hal-hal yang positif, ketika ia berbicara semua orang terpana karena kedewasaanya dalam berpikir, kata-katanya penuh inspirasi dan memberi jalan keluar yang baik dari masalah yang dihadapi. Ini hal yang nyata teman… ketika melihat mereka ada cahaya yang terpancar dari wajah mereka. Subhanallah.. izinkan saya menyebut mereka di tulisan ini mereka orang-orang yang pernah menorehkan “ada” di hati saya Almh. Addien Fitrah Husnayain dan Almh. Syarifah Almira.



Tak lama saya mengenal mereka, tapi mereka tetap ada dan hidup di hati saya memotivasi dan mengispirasi ibaratnya ketika spirit itu memudar saya bisa mengenang mereka dan memotivasi saya untuk bangkit. Tak lebih dari setahun saya mengenal Almh. Addien karena beliau wafat pada saat semester 2 . berita kepergiannya begitu menyesakkan bagi kami teman-teman sekelasnya karena sehari sebelum kepaergiannya kami masih bertemu dan tak ada yang dikeluhkan. Sore itu, saya masih ingat saat pelajaran bahasa Inggris kami mendapat kabar bahwa Addien meninggal dunia dirumahnya. Seperti petir yang menyambar disiang hari yang panas, serasa tidak percaya. Kami 1 kampus berangkat ke rumah Almarhummah dan ternyata Addien telah berbaring tak berdaya. Ada sesuatu yang hangat disana ketika semua orang begitu kehilangan sosoknya. Saya selalu terbayang cahaya itu diwajahnya, saya merasakannya sendiri beberapa minggu sebelum kepergianya.

Mba Iffah, yang ingin dipanggil bunda oleh kami adik-adik tentornya. Beliau begitu mengayomi dan kecintaanya pada Allah SWT begitu terlihat pada setiap ucapannya, tingkah laku, dan semua motivasinya. Orientasi ukhrowi banget. Pernah mba iffah berujar sambil bergetar suaranya bahwa beliau sangat mencintai kami adik-adiknya sampai sempat saya melihat air mata itu mengalir di daun matanya. Beliau mengatakan sangat bersyukur karena Allah SWT  telah mempertemukan beliau dengan kami.  Keikhlasan mencintai kami adik-adiknya sangat kami rasakan, rengkuhannya ketika kami hendak berpisah begitu lama seolah tak ingin kehilangan.

Setiap kematian meninggalkan pesan, pesan untuk mengingat betapa dekatnya kita dengan alam barzah. Pesan untuk mengingat dan menyebut kebaikan yang meninggal agar ada langkah yang nyata dalam mengikuti kebaikan-kebaikan yang ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kamu menghadiri orang yang sakit atau orang yang meninggal, maka katakanlah yang baik, maka sesungguhnya malaikat mengaminkan (membaca amin) atas apa yang kamu katakan.” (HR. Muslim)
Mereka dari banyak orang yang saya kenal telah mendahului saya dan anda, mereka telah menempati tempat yang abadi disana. Mereka pula yang telah menorehkan sesuatu di hati tiap-tiap orang dengan pewarnaan mereka masing-masing. Mereka pula dari sekian ratus juta orang yang telah memilih jalan hidup untuk mempersiapkan akhir hidupnya dengan bagaimana dan bekal apa. Catatan kebaikan telah banyak ditorehkan, saatnya bagi kita untuk meneladani dan melanjutkan perjuangannya. Hal yang pasti, bahwa hakikatnya bertambahnya umur adalah semakin mendekatkan kita pada  kematian. 

Maha Suci Allah yang berhak mengambil nyawa hamba-Nya dengan cara apapun, Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatunya.



Artinya: “Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).



-ketika waktu itu semakin mendekat-





5 komentar:

  1. salam kenal.

    terima kasih tuhan engkau telah memberikan hidup ini.

    BalasHapus
  2. thank's Sanam.. Nice to see U :)

    BalasHapus
  3. salam kenal juga.. terima kasih udah mau berkunjung. Semoga bermanfaat :)

    BalasHapus
  4. sesungguhny kita yang memilih sendiri bagaimana akhir hidup kita....memilih akhir yang bahagia (dalam taat pada Allah) atau akhir yang sengsara (kufur kepada Allah). alangkah indahnya jika saat hidup di dunia ini berakhir dengan husnul khotimah yang akan menjadi kenangan terindah ketika kita hidup abadi di syurga Allah kelak.

    BalasHapus