Cahaya itu diatas cahaya…

Menerangi jalan menuju cinta-Nya



Kamis, 25 April 2013

24042013


Barakallah, met milad ivon
turut berduka atas usia yang semakin berkurang
masih banyak cita2 yang harus kita raih
harapan yang harus dikejar
semoga dunia tetap di tanganmu dan akhirat di hatimu
uhibukki fillah :)

REcharge

Satu minggu ini termasuk minggu yang banyak mainin emosi. udah kayak rollercoster naik turun, merosot naik turun lagi dengan posisi curam, kaki dikepala kepala di kaki sampe rasanya emesis, eneg, nano nano pokoke. Dan suasana paling enak untuk ngingat-ingat kejadian apa aja yang udah dialamin sehari-hari adalah pas saat berangkat/pulang kerja diatas motor (*berbahaya tapi cukup mengobati suasana hati).

Entah karena apa, padahal 1 minggu terakhir ini bukan termasuk premenstrual syndrome day tapi rasanya kok aneh dan sangat tidak nyaman.

Beberapa hari yang lalu Fera, temen SMA saya sms kalau di keterima di sekolahnya pak Munif di Bekasi, sekolah yang dia impiin dan cita-citain, harapan besar masuk ke sekolah tersebut. Alhamdulillah, seneeeeeng banget dengernya tapi sekaligus sedih yang gak tergambarkan kehilangan 1 sahabat terbaik untuk berpisah meraih apa yang di impikan. Selanjutnya kabar dari tempat kerja yang kurang menyenangkan, miss komunikasi dengan orang tua yang gak mau dengar pendapat orang lain ( * sediiih... padahal ibu itu saya anggap orang terdekat yang nyaman untuk berbagi), selanjutnya dapat kabar dari blognya ivon kalau bulan July bakalan ninggalin Indramayu tercintah menuju Jakardah, Ivon rencana ninggalin Indramayu dan bekerja di Jakarta sambil berencana kuliah S2 di UNJ ( sedih pangkat 3, sohib terbaik 1 lagi mau pergi). Rasanya beraaat...

Pulang kerja dengan berbagai macam perasaan kemarin satu2nya tempat yang langsung saya datengin adalah kamer Umi. Bruk... langsung tiduran di sebelah Umi yg lagi tidur siang, gak peduli dengan bau keringat yang bercampur dengan bau panas matahari sehabis pulang kerja. Saat itu saya hanya butuh nyaman dan ketenangan, nempel di sebelah umi yang lagi tertidur pulaaas. Sesekali saya liat tangannya, keriput di tangannya tak bisa menutupi sudah berapa lama perjalanan hidup yang di alami, sudah berapa banyak masakan yang udah di buat, udah berapa ton baju2 yang udah di cucikannya untuk abah, saya dan abang-abang saya dahulu, tangan yang terangkat dalam do'a dan penghujung malamnya, tangan yang udah banyak jasa bagi saya dan abang2 saya. Saya liat wajahnya, Umi semakin berkeriput, ujung daun matanya semakin turun, tanda2 kecantikan hatinya terpancar di wajah tua umi,  yang masih berusaha tetap tegar dan kuat menjalani usianya yang sudah tidak lagi muda. 

Layaknya isi ulang, energi untuk segera move on itu perlahan saya dapat setelah beberapa jam berada di sebelah umi, tanpa ada kata hanya mencoba mencari makna bahwa ada seseorang yang luar biasa di sebelah saya, yang entah berapa banyak cobaan yang dialami, energi untuk tetap semangat dan bertahan itu terasa sekali. Ya Allah, sungguh saya gak mau lemah dengan semua kondisi ini, saya ingin tetap bertahan dengan semua cobaan yang dialami, menyelesaikannya dengan kedewasaan dan kelapangan dada, saya  gak mau lemah, saya ingin menjadi luar biasa untuk orang tua saya.

Sabtu, 20 April 2013

Beauty Care Day

Hari ini takdir mempertemukan saya dengan para istri-istri cantik yang sedang menunggu antrian perawatan wajah di salah satu salon muslimah. Rencana yang gak di rencanakan alias tiba-tiba saja mereka ngajak saya untuk ikutan perawatan di tempat tersebut.

Ternyata Jum'at itu cukup ramai salon muslimat itu. antrian cukup membuat kami ngobrol ngalor ngdul sambil nunggu antrian di rawat wajahnya alias facial (* heu...).

Emang ya, iklan itu sangat berpengaruh buat orang menentukan suatu pilihan bahkan mempengaruhinya secara lembut maupun ekstrem. Temen saya yang juga seorang ibu satu anak itu akhirnya rela menerima tawaran si mba salon untuk melakukan facial lengkap dan setrika wajah. What? yang ada di dalam kepala saya setrika layaknya alat elektronik rumah tangga buat ngelicin baju dan itu 'hot' banget.

Yaa, karena saya nebeng motor sama mba ini alhasil saya harus menunggu beliau untuk di facial lalu di setrika wajah. waktu terasa begitu lama, total 3 jam saya berada d tempat itu. Menariknya, di samping saya ada seorang ibu yang asik ngasih wejangan ke salah seorang karyawan salon bagaimana cara menggunakan paket perawatan dokter yang ia punya, sebelum masuk ke ruangan saya ketemu dengan anak SD kira2 kelas 5 yang lagi di pijit2 kepalanya alias di creambath, di sebelah anak itu ada ibunya yang sedang duduk dengan posisi kepala yg juga lagi di pijat. Jejer di dalam kamar perawatan wajah 3 orang cewek-cewek muda lagi rebahan dengan wajah yang hitam tertutup masker lumpur.  ada yang di terapi telinga, keriting bulu mata dan seorang ibu2 berpostur tambun yang lagi di bonding di kursi salon. yaa.. inilah salah satu fenomena dunia perempuan, tampil cantik, indah dan bersih itu harapan dan impian.

Hampir 3 jam akhirnya mba yang ngebonceng saya beres dengan facial dan setrika wajahnya, saat bertemu kami si mba senyam-senyum sambil malu2 minta pendapat kami tentang wajahnya yang makin kinclong sehabis di setrika. Kami guyon kalau suaminya bakalan makin cinta nih dengan penampilan istrinya yang makin cantik (heheee...).

Tiba-tiba diantara kami nyeletuk, tuh ya... istri itu tetep lho ingin tampil cantik di hadapan suaminya dengan berbagai cara apapun. di pencet-pencet wajahnya, disetrika, ngeluarin biaya, perawatan, apapun lah. tapi kadang suami suka gak tau kalau biaya yang dikeluarkan, waktu yang di sediakan khusus buat perawatan sebetulnya juga balik lagi buat para suami biar tetep seneng dengan istrinya.

(heeee...mmm) saya manggut-manggut sambil senyam-senyum dengan komentar itu, secara cuma saya yang belum bersuami saat itu ;P

Thank You Miss ;)


Ya ampuuuuun, emang bener ya Allah itu bisa ngasih kita kado luarrrrrrrr biasa yang gak pernah terduga.  beberapa menit setelah saya nulis Notes yang judulnya "Mikir" yang isinya tentang rasa syukur saya karena telah dipertemukan dengan orang-oreng hebat, di tengah malam menjelang pagi ini saya nguplek-nguplek blogger daaan ternyata ada seseorang yang ngungkapin kata cinta buat saya di dalam blognya :)

Ngungkapin secara rahasia dan ternyata tulisan itu tanpa dinyana dan di duga terbaca. So sweet, ternyata oh ternyata (maluuuu rasanya, cihuy...)

Saya gak nyangka kalau intensnya kita ngobrol bisa buat dirinya membuat penilain sendiri tentang saya. thanks Miss. Ivon, big hug 4 u... uhibbuki fillah pokoknya.

Berawal dari pertemuan yang gak pernah terduga, berawal dari pembicaraan yang ringan dan sampai pada akhirnya kesamaan dari hobi dan minat menyatukan saya dan Ivon. Kl ngobrol sama ivon itu bawaannya semangat menggebu-gebu dengan segala kekuatan super womennya (hahaha...). pembicaraan yang  ngalor ngidul sampe pembicaraan dewasa yang bikin hati terenyuh, dari cita-cita yang bikin semangat, dari harapan, dari kesamaan hobi travelling yang amatiran, hobi baca buku dan berlama-lama betah nongkrong di book fair, dari keinginan menjadi muslimah backpacker yang serabutan, dari pengalaman ingin mencoba hal-hal baru, ngeliat sunrise, sunset, naik gunung, snorckling (bener gak nih tulisannya?), diving, Sherlock Holmes, cerita tentang list harapan dan keinginan, jodoh, jalan hidup, mengais hikmah, dan yang membuat pembicaraan kita makin hidup kalau udah bahas Tere Liye, all abou Tere Liye mulai dari novel, notes, status dan buku apa yang bakal Tere Liye launching itu merupakan sesuatu (bukan syahrini) bangeet.

Takdir yang terbaik semoga selalu bersamamu Ivon...  dari blognya juga saya tau ternyata bulan Juli '13 ivon berencana meninggalkan tanah kelahirannya tercintah (sediiiih.....). kehilangan lagi 1 orang sahabat terbaik. Ivon itu punya cita2 yang besar, salah 1nya Ivon mau ngelanjutin S2 dan target beasiswa di Belanda/Brunei,/Newzeland, Amin..

Udah 2 minggu I miss her (lebay dikit), absen dari rencana jogging rutin sore di run track sport center dan belajar berenang (jiaaa...) akibat cedera lutut ringan yang diakibatkan oleh hal yang sangat gak banget untuk diceritakan.

Can I say, Alhamdulillah udah dipertemukan dengan dirimu Miss :)

Kamis, 18 April 2013

mikir

Again, masih kesuiltan memejamkan mata padahal besok termasuk rush day.
hmm, rasanya kok pengen dinyanyiin sama Nick Boddington dengan iris-nya. (huaaaa...*abaikan)

Baiklah, teringat beberapa jam yang lalu menjelang detik-detik sholat maghrib. tiba-tiba saya cuma mau berkata "Thanks God, udah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat, sahabat-sahabat yang hebat, teman-teman terbaik di dunia nyata maupun maya."

karena apa saya nulis gitu, because/ karena ada orang2 yang begitu luar biasa hadir dalam kehidupan saya dan itu very2 influence banget lah. kalau ngobrol, ketemu, atau baca tulisan2 cerita2nya bikin impact sendiri di dalam hati.seriuuus...

Dan ternyata, mereka itu membawa warna masing-masing di dalam cara pandang saya terhadap sesuatu. dari yang ekstrim, optimist, melankolist, visioner,  perfecsionist, santai, nyeleneh, gak sopan, konyol, kocak, frontal, agamis, untungnya gak ada yang atheis.

Ya ampuuun, ternyata banyak orang2 luar biasa yang begitu berpengaruh dan mereka itu sebagian besar seumuran dan udah berbuat sesuatu yang besar, untuk diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. 

(ngaca diri...) hallow, kamu udah berbuat apa aja? minimal berbuat sesuatu, bukti kl kamu pernah hidup di dunia ini? (mikir...)

Sabtu, 23 Maret 2013

Tere Liye, Notes



Tidak ada nasehat Nabi secara langsung bagi perempuan bagaimana memilih suami yang baik, bukan? Yang ada untuk cowok.

Bukan karena diskriminatif. Selain nasehat itu kadang berlaku umum--meski yang disebut cowoknya, mungkin juga salah-satu alasannya adalah karena perempuan tidak memilih, melainkan perempuanlah yang memutuskan: diterima atau ditolak.

Nah, urusan terima atau tolak, itu sama seperti metode umum. Terimalah yang baik, tolak yang buruk. Gunakan prinsip paling mendasar, paling hakiki, paling sejati, dan paling abadi, agar tidak menyesal. Boleh pakai kriteria semua-muanya, boleh mau semua-muanya, tapi fokuslah yang pentingnya apa.
--Tere Liye

 -----------------------------------

Beruntunglah wanita2 yang tetap cantik hingga masa tuanya, meskipun kulitnya keriput, wajahnya berkerut, rambut menguban, dan tanda-tanda tua lainnya telah datang, tapi mereka tetap cantik.

Beruntunglah mereka, aduhai, bahkan semakin cantik saja, menyenangkan berada di dekatnya, menyenangkan menatap wajahnya, mendengarkan suaranya, nasehatnya.

Karena kecantikannya itu telah pindah, pindah ke dalam hatinya.

Pun sama untuk laki-laki, semakin tua, semakin tampan saja. Begitu menenteramkan, begitu melegakan menatapnya. Karena ketampanan itu mekar tak terbilang: di dalam hatinya.

--Tere Lije
-------------------------------------

(I)
Kalau kalian serius mencari jodoh, mungkin cowok yang rata2, konservatif, tidak neko2 bisa jadi pilihan baik.
Tidak masalah anak rumahan, anak mama-papa, yang penting kelak perhatian dan sayang keluarga kelak.
Tidak apalah nggak keren, nggak gaul, bukan bintang olahraga, bukan anak band, yg penting lurus dan bertanggung-jawab
Tidak apa nggak kayak James Bond, malah lebih terlihat culun dan malu2, yang penting jujur dan sabar.

(II)
Juga sama buat cowok, mungkin calon istri yang rata2, konservatif, tidak neko2 bisa jadi pilihan paling tepat.
Tidak apa anak rumahan, nggak pernah keluar malam-malam, nggak gaul, yang penting bisa menjaga kehormatan.
Tidak masalah bukan cewek paling cantik, paling populer, tapi tinggi ilmu dan pemahamannya.
Tidak perlu kayak anggota girlband Korea yg imut2, lincah2, malah lebih terlihat gadis pingit, yang penting kelak bisa mengurus keluarga.

Mungkin bisa dipikirkan.
----------------------------------------

Untuk jadi apoteker, akuntan, psikolog, dokter dan gelar profesi lain, kita tambah lagi 2 tahun sekolah profesi, pengabdian, dsbgnya.

Tetapi untuk menjadi ibu rumah tangga? Dikumpulkan seluruh pendidikan tersebut, ditambah lagi bertahun2, bertahun2, bertahun2 kemudian, tetap tidak akan cukup untuk bisa memastikan seseorang berhak menyandang: ibu rumah tangga terbaik. Karena panjang dan pentingnya proses pendidikan ibu rumah tangga.

Nah, kalau semua orang ingin sekolah tinggi2 demi gelar, profesi, pekerjaan, dsbgnya, maka ajaib sekali, kenapa orang2 begitu menyepelekan pendidikan super tinggi untuk menjadi ibu rumah tangga? Padahal memiliki anak yang berakhlak baik, keluarga yang bahagia, jauh lebih penting dibandingkan kesuksesan karier dan sebagainya.

Berikan pendidikan kepada anak2 perempuan kita setinggi mungkin, agar kelak saat menjadi Ibu, sungguh berguna semua ilmunya. Satu Ibu yang baik, akan melahirkan satu keluarga yang baik. Satu generasi Ibu yang baik, maka akan datanglah penerus yang dijanjikan.
 -----------------------------------------

*Anak laki-laki, anak perempuan

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda: wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Dan dahulukanlah agamanya, jika tidak maka kamu akan menyesal. (HR. Bukhari)

Membaca hadis ini bukan: ada 4 kriteria mencari jodoh, lantas utamakanlah kriteria ke-4, agama. Bukan begitu. Hadis ini tidak sedang menyusun kriteria mencari jodoh. Membaca hadis ini adalah: umumnya orang2 menikahi seorang wanita karena empat hal: harta, keturunan dan kecantikan, dan agamanya. Boleh menggunakan 3 sebab pertama? Boleh, tapi bersiaplah besok lusa menyesal. Besok lusa ini tidak sebatas besok lusa hitungan tahun, tapi kelak hingga akhir yang sebenarnya akhir. Orang2 yang menggunakan sebab terakhir, insya Allah tidak akan menyesal. Mau percaya atau tidak atas wasiat ini, dikembalikan ke masing-masing.

Tetapi, Tere Liye itu bukan ahli tafsir, dan tulisan pendek ini tidak dibuat untuk membahas soal hadis ini secara detail. Saya justeru ingin membahas hal lain, yaitu: urusan "remeh-remeh" saja.

Coba lihatlah, saya hampir tidak menemukan syarat jodoh yang baik itu, bahwa wanita harus:
1. Bisa masak
2. Bisa mencuci
3. Bisa ngepel
4. atau bisa menjahit pakaian

Menarik sekali, bukan?

Lantas kenapa selama ini, seolah-olah pekerjaan domestik adalah tanggungjawab wanita? Saya tidak tahu muasalnya. Tapi jelas, dalam agama kita, banyak teladan yang menunjukkan bahwa laki-laki juga terlibat dalam pekerjaan domestik/rumah tangga--termasuk teladan dari Rasul Allah.

Kenapa wanita harus dinikahi karena alasan agama? Karena pentingnya posisi Ibu sebagai orang pertama yang menanamkan kepribadian pada anak-anak. Karena pentingnya posisi Ibu sebagai orang yang "mengurus seluruh rumah tangga". Bicara soal mengurus rumah tangga, maka itu bukan semata2 pekerjaan domestik seperti mencuci, masak, kecil sekali kalau hanya itu, tapi lebih dari itu, seperti menjaga kehormatan keluarga. Saya tidak main-main soal 'kehormatan keluarga' ini. Seorang istri yang baik, bahkan bisa menjaga suaminya dari prilaku korupsi waktu, korupsi perjalanan dinas, dsbgnya. Bukan justeru istrinya yang membujuk suami agar nebeng fasilitas kantor dalam banyak hal.

Nah, seseorang dibilang punya agama yang baik, mutlak alias harus alias kudu: punya ilmu yang tinggi. Ini lebih menarik lagi. Agama yang baik bukan karena hanya dia siang malam shalat, tidak putus berpuasa, dsbgnya, tapi juga ilmunya yang tinggi. Lagi-lagi saya tidak menemukan relevansi bisa masak, mencuci, ngepel, atau bisa menjahit pakaian di sini. Dan ingat, ilmu agama tinggi itu mencakup banyak aspek.

Maka, agar tulisan ini tidak kemana-mana, akan sy singkat saja, sbb:
1. Jika kalian laki-laki, tanggungjawab pekerjaan domestik/rumah tangga juga melekat pada kita. Kita tidak bisa masak, no problem, tapi mencuci piring bisa kan? Anak2 atau remaja laki-laki harus dididik menguasai pekerjaan rumah tangga, termasuk menyikat kamar mandi, mencuci, menyetrika. Percayalah ibu, bapak, jika anak2 cowok kita sejak kecil sudha jago dalam urusan ini, besok lusa akan berjodoh dengan gadis yang cantik. Itu keliru sekali pemahaman yg bilang, pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan cewek.

2. Jika kalian wanita, maka memiliki ilmu tinggi (baik agama maupun bukan) adalah tuntutan. Ibu rumah tangga dengan pendidikan tinggi, menjadi modal yang baik untuk menanamkan ahklak yg cemerlang bagi anak-anaknya. Well yeah, kenapa orang sibuk menuntut ilmu tinggi2 hanya demi memperoleh pekerjaan dan gaji tinggi? Kenapa orang2 tidak menuntut ilmu agar bisa mendidik anak2nya menjadi keren? Itu jelas argumen yang lebih hakiki dan masuk akal. Dan keliru sekali pemahaman yang bilang, sia-sia saja sekolah tinggi2 kalau hanya jadi ibu rumah tangga.

Mungkin menarik untuk dipikirkan.






Jumat, 22 Maret 2013

Missing sunset


Rinduu...
merindu sangat akan sunset
akan sinarnya yang menerpa wajahku, keemasan menerpa pipi yang  bersemu memerah..
lembuut, hangat, menenangkan bagi para perindu

menikmati ketenangan, merasakan sayup-sayup deburan ombak yang menyapu mendekat, mendengar kepak dan suara sekelompok burung yang hendak ke peraduan, memaknai basahnya pasir putih yang mencoba bertahan pada tepi

hangat yang membawa kedamaian

aku ingin merasakannya sambil menghirup wangi pasir pantai yang basah, terpaan angin pantai yang menyentuh wajah dengan kedua daun mata yang tertutup, berharap kedamaian ini bisa ku bagi dengan seseorang yang duduk termangu sambil tersenyum di sebelahku

hatiku merasakan damai itu, sumringah hati menembus sawar kepongahan dan kekakuan hatiku
senyum membawa kelembutan di bibirku

aku ingin hangat itu, menikmati merah saga yang tersusun dalam mega yang berlapis-lapis, berundak-undak menyusun suasana langit

rinduu, inginku bagi rindu ini bersamamu, bersamamu....